Wednesday, May 20, 2015

Review Film: 'Ex Machina' (2015)

Review Film: 'Ex Machina' (2015) - Hallo sahabat Movie Film | Nonton Film | Download, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Review Film: 'Ex Machina' (2015), kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Drama, Artikel Featured, Artikel Review, Artikel Sci-Fi, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Review Film: 'Ex Machina' (2015)
link : Review Film: 'Ex Machina' (2015)

Baca juga


Review Film: 'Ex Machina' (2015)

Dimainkan dengan brilian oleh ketiga aktornya, 'Ex Machina' adalah film sci-fi cerdas yang mengeksplorasi lebih jauh tentang kecerdasan buatan dan merupakan film bertema A.I. yang paling akurat hingga saat ini, baik secara logika maupun emosional.

“One day the AI's are going to look back on us the same way we look at fossil skeletons on the plains of Africa.”
— Nathan Bateman
Tema mengenai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (A.I.) sudah sering diangkat dalam film, misalnya saja (yang terbaru) dalam Chappie dan Her. Namun di tangan Alex Garland yang terkenal dengan skenario inovatifnya dalam film zombie 28 Days Later, tema familiar ini menjadi segar dengan mengambil pendekatan baru. Tak hanya menjadikannya screenplay yang ambisius, namun juga menjadi debut prestisius Garland sebagai sutradara.

Sama seperti film sci-fi bertema A.I. lainnya, film ini juga membahas tentang eksistensi kecerdasan buatan dan bagaimana posisi mereka di dunia manusia. Apa yang akan terjadi jika kecerdasan buatan tak hanya bisa meyakinkan kita bahwa mereka sama seperti manusia, tapi menyadari bahwa mereka ADALAH manusia dan punya keinginan bertahan hidup yang sama? Pertanyaan inilah yang menjadi premis utama dari skenario Garland.

Caleb (Domhnall Gleeson) adalah seorang programer dan pegawai kelas bawah di Bluebook, sebuah perusahaan mesin pencari terpopuler di dunia (mirip dengan Google) yang memenangkan kompetisi yang diadakan oleh CEO-nya yang jenius, Nathan (Oscar Isaac). Hadiahnya adalah kesempatan untuk menghabiskan waktu seminggu bersama Nathan di kompleks mewah miliknya di Alaska.

Sesampainya disana, ternyata Caleb bukan diundang untuk liburan, melainkan melakukan "Turing Test", sebuah pengujian yang dilakukan Nathan untuk mengetes A.I. berteknologi tinggi yang baru dibangunnya dalam wujud robot berwajah cantik bernama Ava (Alicia Vikander). Caleb bertugas untuk melakukan kontak verbal dengan Ava dan menguji kesempurnaan Ava sebagai A.I. yang mirip manusia.

Saya tak ingin mengungkap lebih jauh, karena lebih baik jika anda tak tahu banyak sebelum menonton. Semua terlihat misterius di awal film, membuat anda menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dan disanalah kunci sukses Garland memancing rasa penasaran penonton. Sedikit demi sedikit kita terikat secara emosional dengan tiap-tiap karakter.


Melalui 7 sesi pengujian Ava, Garland mengungkap semua rahasia melalui skenario yang dinarasikan dengan terencana. Semua lapisan cerita dibuka satu persatu yang mengungkapkan bahwa Nathan dan Ava punya agenda tersendiri.

Dengan narasi yang hanya berfokus pada 3 orang (dengan tambahan satu karakter pendukung yang juga punya peran signifikan yang diperankan oleh Sonoya Mizuno), film ini terasa seperti drama teater, yang dimainkan dengan brilian oleh ketiga aktornya. Tak hanya meyakinkan kita bahwa ketiganya berinteraksi sebagai sesama jenius, mereka juga membawakan bobot emosional yang dituntut oleh karakter masing-masing.

Yang paling mencolok adalah Oscar Isaac yang memainkan Nathan, seorang jenius muda yang punya kompleksisitas karakter. Nathan yang visioner memanfaatkan database Bluebook (yang menguasai 90% query pencarian di dunia) bukan untuk tujuan komersil melainkan membuat A.I. super. Di balik pembawaannya yang santai, humoris, dan sesekali mabuk, ada indikasi bahwa dia punya rahasia tersembunyi.

Saya merasa Caleb adalah representasi dari penonton yang polos dan nyaris tak tahu apa-apa. Caleb yang diperankan oleh Domhnall adalah seorang nerd yang jenius, namun dia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Matang dalam logika, namun naif secara mental. Vikander juga meyakinkan sebagai seorang (atau sebuah?) robot cerdas lengkap dengan gerak tubuh canggung yang mencoba meniru mimik dan perilaku manusia.

Ex Machina tak pernah berusaha terlihat pintar dengan menggunakan istilah thesaurus. Dialog-dialognya yang cerdas memang menggunakan istilah-istilah canggih, namun mudah dicerna. Plot twist yang cukup banyak, tak pernah mendahului penonton karena semuanya sesuai, baik secara logis maupun emosional.

Walaupun bergenre sci-fi dengan setting di masa depan, selain penampakan Ava dengan tubuh robotiknya yang nyaris transparan dengan lapisan wajah cantik yang (secara meyakinkan dibuat seperti) ditempel di atas tengkorak metal, nyaris tak ada efek visual CGI yang dihadirkan. Anda takkan melihat set megah dan efek canggih seperti film Artificial Intelligence-nya Steven Spielberg.

Secara efektif Garland memanfaatkan bujet minimnya yang hanya $15 juta dan menciptakan film dengan estetika visual. Pemilihan lokasi yang dipakai tak hanya cocok dengan narasi film namun juga membangun mood penonton. Penonton dikondisikan untuk merasakan perasaan klaustrofobik Caleb yang menginap di kabin Nathan dengan ruangan berdinding tebal tanpa jendela. Meski sesekali Caleb dan Nathan berjalan-jalan keluar kabin ke lokasi dengan pemandangan mengagumkan (yang diambil dengan indah oleh sinematografer Rob Hardy), tak mengurangi perasaan terisolasi. Atmosfer ini juga didukung oleh scoring menawan dari Ben Salisbury dan Geoff Barrow.

Pada akhirnya, Ex Machina adalah drama sci-fi psikologis tentang prasangka, teror, dan empati. Ending film yang mind-blowing mengisyaratkan bahwa ini bukan sekedar pertarungan antara manusia dan A.I. namun juga sedikit menyindir persaingan gender. Tak sekedar mengambil embel-embel "sci-fi" sebagai bahan jualan, namun mengeksplorasi lebih jauh tentang sisi emosional dari tindakan manusia yang ingin menjadi seperti Tuhan, dan robot yang ingin menjadi seperti manusia, serta bagaimana konsekuensinya bagi dunia dan masa depan. Menurut saya, Ex Machina adalah film bertema A.I. yang paling akurat hingga saat ini. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

'Ex Machina' |
|

IMDb | Rottentomatoes
108 menit | Dewasa

Sutradara Alex Garland
Penulis Alex Garland
Pemain Domhnall Gleeson, Alicia Vikander, Oscar Isaac


Demikianlah Artikel Review Film: 'Ex Machina' (2015)

Sekianlah artikel Review Film: 'Ex Machina' (2015) kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Review Film: 'Ex Machina' (2015) dengan alamat link https://moviefilm99.blogspot.com/2015/05/review-film-machina-2015.html

No comments:

Post a Comment